Contact Me

Yahoo Messenger

Facebook

Info

RDSFM Solo

PKS Kalijambe

Lomba Blog

SEPENGGAL EPISOD KEHIDUPAN

Posted By Admin on Sunday, June 26, 2011 | 10:51 AM

(Seorang Hamba Alloh yang Faqir)

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Subhanalloh Wal hamdulillah Walaa ilaaha illalloh Wallohu Akbar....

Maha suci Alloh yang telah mengkaruniakan segala yang dibutuhkan oleh hambaNya, kasih sayang tiada henti, rizki yang luasnya tiada bertepi dan DIA selalu memberikan segalanya entah itu kita minta maupun tidak kita minta...Allohu Akbar...

Semoga sholawat serta salam selalu tercurah kepada uswah khasana kita Nabi Alloh Muhammad saw beserta para shohabat dan para pengikutnya yang selalu berada dalam barisan bersama orang orang yang selalu menegakkan dan mininggikan kalimah-kalimah Alloh....

Saudaraku....Dilahirkan ke dunia adalah sebuah takdir yang harus kita terima, ada banyak beban, ada banyak tugas, ada banyak amanah.....tapi itu juga merupakan karunia dari Nya untuk kita..., alam kedua setelah 9 bulan 10 hari di alam yang hingga kini kita sulit dan bahkan tak bisa mengingatnya, yakni alam kandungan....


Betapa Alloh punya rencana besar dalam hidup kita ini. "M Syaiful Arifin" , sebuah nama yang dilabelkan pada diri ini sejak puluhan tahun silam. Hidup ini harus dijalani....status diri menjadi seorang "kholifah" dimuka bumi pun juga harus dijalani, Menjalani nya akan menjadi sangat sulit bagi mereka yang tak tahu ilmunya..., namun akan menjadi sangat mudah bagi mereka yang tahu dan faham akan ilmunya.

Sehingga dunia ini akan menjadi "Universitas Kehidupan" bagi siapa saja yang ingin meraih segalanya. Rosul Bersabda bahwa kunci dari kehidupan di dunia adalah ilmu, kunci kehidupan di akherat juga ilmu serta kunci bagi keduanya adalah juga dengan ilmu. sehingga dalam lain kesempatan rosul juga menegaskan bahwa mecari ilmu itu wajib bagi setiap muslim baik laki laki maupun perempuan.


Ada banyak proses dalam kehidupan. ketertarikan pada dunia broadcasting melabuhkanku pada sebuah pilihan untuk berbuat kebaikan melalui lisan. (semoga dihitung-Nya sebagai pahala "dakwah ilalloh bilisan"....). Dari radio Jahiliyah (kalo ane menyebutnya NOW), hingga ditahun 2004 ditakdirkan untuk bertemu dengan MQFM Solo, jaringan MQFM Bandung. Banyak ilmu, banyak kawan dan banyak hal-hal baru yang kudapatkan. Subhanallloh....Sukron Jazakumulloh saudaraku semua.... Kalian punya arti tersendiri dalam kehidupan ini, semoga kita bisa dipertemukan kembali di dunia hingga di akheratnya...amin ya Alloh...


Juli 2005, moment menyempurnakan setengah diin, ini tak mungkin dilupakan..., ada amanah didalamnya, ada anugerah disana, ada suka cita dalam mengarunginya... "Tri Handayani", satu nama yang kini menjadi istri tercinta, selalu jadi sahabat, kawan, teman dalam setiap langkah perjalanan dalam mengarungi bahtera kehidupan untuk mencapai kehidupan hakiki yang dijanjikanNya. (di rumah dia istri, djalanan kawan...diwaktu kita buntu dia penunjuk jalan..................). Kembali hadir amanah baru sekaligus anugerah indah dariNya. Kehadiran seorang jundulloh (insya Alloh) "Fatihul Ula Al-Arif" (Oktober 2007), dan "Rufaida Al-Aslamiya Al-Arif" (April 2000), semoga menjadi pejuang peninggi kalimah-kalimahMu dan menjadi hambaMu yang sholeh dan sholehah....Alloh Amin yaa Alloh...

Jalan memang tak selamanya lurus sebagaimana yang diharapkan, 2007 merelakan MQFM Solo menuju ke amanah dan episode kehidupan berikutnya. Rumah Zakat Indonesia (RZI) cabang Solo. Lagi-lagi Alloh mempertemukan dengan saudara-saudaraku se-iman yang insya Alloh banyak mewarnai kehidupan sehingga menjadi bersahaja. Dorongan, motivasi bahkan teguran, menjadi pelengkap warna dalam hidup. Sukron jazakumulloh sahabat sahabatku......"Semangat Pagi.....Bisa...Bisa...Harus Bisa....Allohu Akbar......" hehehehehe.....

Saudaraku.....

Segala yang ada di dunia pasti akan berubah, dan yang tidak akan berubah adalah "perubahan" itu sendiri...(kata orang sih gitu...). Menyambut amanah baru di dunia broadcasting lagi. Januari 2009, RDSFM Solo adalah pelabuhan berikutnya. Banyak harap ini kan jadi wasilah tuk semakin mendekatkan diri yang faqir ini kepadaNya. Semoga........amin Ya Alloh kabulan..............

...................................................

...................................................

...................................................

untuk dilanjutkan dilain hari....................


Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh





10:51 AM | 0 komentar | Read More

Taat Beragama Bikin BAHAGIA…

Posted By Admin on Thursday, December 9, 2010 | 7:43 PM


Saudaraku, beberapa hari lalu siaran RDS PAGI dengan tema “Bahagia Dengan Agama”. Sebuah tema yang memang sebagai seorang muslim kita sangat meyakininya. Betapa banyak orang yang kemudian taat beragama, selalu menyibukkan diri dengan ibadah kepada-Nya, selalu menggunakan waktu waktunya untuk menegakkan dan meninggikan kalimat-kalimat-Nya, dan ia pun bisa merasakan ketenangan bathin yang luar biasa. Walau secara kasat mata ia dipandang orang sebagai orang miskin sekalipun, namun ada ketentraman jiwa, ketenangan batin yang ia rasakan dalam kesehariannya.
Sebuah penelitian dari LSI (Lingkaran Survey Indonesia) yang kemudian menghasilkan data yang mendukung akan hal tersebut, yakni agama akan membuat orang semakin bisa hidup bahagia.

Agama sedikit banyak bisa membuat orang lebih bahagia. Hal ini merupakan kesimpulan dari hasil survei nasional Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Seperti diketahui, mayoritas publik Indonesia menyatakan dirinya bahagia. Sebab, dalam survei tersebut membuktikan bahwa sebanyak 84,7 persen publik Indonesia menyatakan dirinya bahagia.

Jumlah tersebut terbagi atas 14, 2 persen publik Indonesia menyatakan sangat bahagia dan 70,5 persen cukup bahagia. Sementara yang mengatakan kurang bahagia dan tidak bahagia sama sekali sebanyak 12,2 persen. Dari hasil tersebut, ada perbedaan penilaian kebahagiaan antara orang yang taat dan tidak taat beribadah.

"Mereka yang taat beribadah, sedikit lebih tinggi tingkat kebahagiaannya dibandingkan mereka yang kurang taat beribadah," kata Direktur LSI, Sunarto Ciptoharjono, Selasa (30/11).

Dalam hasil survei tersebut, terlihat dari kelompok orang yang taat beribadah, ada sebesar 86,2 persen publik yang menyatakan sangat bahagia atau cukup bahagia. Sementara hanya 11,7 persen yang menyatakan tidak bahagia. Lain lagi dengan kelompok orang yang tidak taat beragama. Hanya sebesar 81,0 persen responden yang merasa bahagia, dan sebesar 15,5 persennya menyatakan tidak bahagia.

Perbedaan tingkat kebahagiaan juga tampak di kelompok mereka yang sering dan jarang mempertimbangkan ajaran agama sebelum mengambil keputusan penting dalam hidup. "Meskipun perbedaannya tipis," kata Sunarto.

Yakni sebesar 86,0 persen responden yang merasa bahagia berasal dari kelompok publik yang sangat atau cukup sering mempertimbangkan ajaran agama sebelum mengambil keputusan yang dipandang penting dalam hidup. Sementara dari kelompok orang yang kadang atau bahkan tidak pernah mempertimbangkan ajaran agama sebelum mengambil keputusan yang dipandang penting dalam hidup, ada sebesar 81,5 persen orang yang menyatakan dirinya bahagia.

Survei ini, menurut Sunarto, dilakukan secara random. "Tidak dipilih agama atau tingkat pendidikan tertentu," kata dia. Namun, sebagian besar responden (86,2 persen) beragama islam.

Untuk lebih akuratnya download wawancara dengan Direktur LSI, Sunarto Ciptoharjono dalam program RDS PAGI
KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD

Terlepas dari benar dan tidaknya hasil survey itu, selakyaknya sebagai seorang muslim, ketaatan kepada Alloh adalah sebuah kewajiban yang bila kita melaksanakan dengan segenap jiwa dan raga, maka ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan dalam hidup akan kita rasakan.
Wallohu a’lam bishowab….
7:43 PM | 0 komentar | Read More

Membangun Kepribadian Islami

Posted By Admin on Sunday, January 17, 2010 | 4:16 AM


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan paling mulia dibanding dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Allah SWT berfirman,

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” (QS. Al Isra: 70)

Urgensi Kepribadian Islami

Menjadi pribadi yang Islami merupakan suatu hal yang sangat diperhatikan dalam agama Islam. Hal ini karena Islam itu tidak hanya ajaran normatif yang hanya diyakini dan dipahami tanpa diwujudkan dalam kehidupan nyata, tapi Islam memadukan dua hal antara keyakinan dan aplikasi, antara norma dan perbuatan , antara keimanan dan amal saleh. Oleh sebab itulah ajaran yang diyakini dalam Islam harus tercermin dalam setiap tingkah laku, perbuatan dan sikap pribadi-pribadi muslim.

Memang, setiap jiwa yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Tapi bukan berarti kesucian dari lahir itu meniadakan upaya untuk membangun dan menjaganya, justru karena telah diawali dengan fitrah itulah, jiwa tersebut harus dijaga dan dirawat kesuciannya dan selanjutnya dibangun agar menjadi pribadi yang islami.
Ruang Lingkung Kepribadian Islami

Sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sebagai berikut:

A. Ruhiyah (Ma’nawiyah)

Aspek ruhiyah adalah aspek yang harus mendapatkan perhatian khusus oleh setiap muslim. Sebab ruhiyah menjadi motor utama sisi lainnya, hal ini bisa kita simak dalam firman Allah SWT di Surat Asy-Syams : 7-10

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh sangat beruntung orang yang mensucikannya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (QS. Asy Syams: 7-10).

Dan dalam surat Al Hadid ayat 16:

“Belumkah datang waktunya untuk orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka berdzikir kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab di dalamnya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” QS. Al-Hadid:16).

Ayat-ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa menjaga ruhiyah, kerugian yang besar bagi orang yang mengotorinya dan peringatan keras agar kita meninggalkan amalan yang bisa mengeraskan hati. Bahkan tarbiyah ruhiyah adalah dasar dari seluruh bentuk tarbiyah, menjadi pendorong untuk beramal saleh dan dia juga memperkokoh jiwa manusia dalam menyikapi berbagai problematika kehidupan.

Aspek-aspek yang sangat terkait dengan ma’nawiyah seseorang adalah:

a. Aspek Aqidah. Ruhiyah yang baik akan melahirkan aqidah yang lurus dan kokoh, dan sebaliknya ruhiyah yang lemah bisa menyebabkan lemahnya aqidah. Padahal aqidah adalah suatu keyakinan yang akan mewarnai sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh sebab itu kalau ingin aqidahnya terbangun dengan baik maka ruhiyahnya harus dikokohkan. Jadi ruhiyah menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim karena dia akan mempengaruhi bangunan aqidahnya.

b. Aspek akhlaq. Akhlaq adalah bukti tingkah laku dari nilai yang diyakini seseorang. Akhlaq merupakan bagian penting dari keimanan. Akhlaq juga salah satu tolok ukur kesempurnaan iman seseorang. Terawatnya ruhiyah akan membuahkan bagusnya akhlaq seseorang. Allah swt dalam beberapa ayat senantiasa menggandengkan antara iman dengan berbuat baik. Rasulullah saw pun ketika ditanya tentang siapakah yang paling baik imannya ternyata jawab Rasulullah saw adalah yang baik akhlaqnya (“ahsanuhum khuluqan”)

أي المؤمنين افضل إيمانا ؟ قال احسنهم خلقا. رواه ابو داود والترمذى والنسائ والحاكم.

“Mukmin mana yang paling baik imannya? Jawab Rasulullah ” yang paling baik akhlaqnya” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Bahkan diutusnya Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- pun untuk menyempurnakan akhlaq manusia sehingga menjadi akhlaq yang islami

َ إًَِنما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق

Tolok ukur dan patokan baik dan tidaknya akhlaq adalah al-Qur’an. Itulah sebabnya akhlaq keseharian Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- merupakan cerminan dari Al-Qur’an yang beliau yakini. Hal ini terbukti dari jawaban Aisyah ra ketika ditanya tentang bagaimana akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- , jawab beliau “Akhlaq Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- adalah al-Qur’an.

كان خلقه القرآن

c. Aspek tingkah laku. Tingkah laku adalah cerminan dari akhlaq yang melekat pada diri seseorang….

B. Fikriyah (‘Aqliyah)

Kepribadian Islami juga ditentukan oleh sejauh mana kokoh dan tidaknya aspek fikriyah. Kejernihan fikrah, kekuatan akal seseorang akan memunculkan amalan, kreativitas dan akan lebih dirasa daya manfaat seseorang untuk orang lain. Fikrah yang dimaksud meliputi:

a. Wawasan keislaman. Sebagai seorang muslim menjadi keniscayaan bagi dia untuk memperluas wawasan keislaman. Sebab dengan wawasan keislaman akan memperkokoh keyakinan keimanan dan daya manfaat diri untuk orang lain.

b. Pola pikir islami. Pola pikir islami juga harus dibangun dalam diri seorang muslim. Semua alur berpikir seorang muslim harus mengarah dan bersumber pada satu sumber yaitu kebenaran dari Allah swt. Islam sangat menghargai kerja pikir ummatnya. Di dalam al-Qur’an pun sering kita jumpai ayat ayat yang menganjurkan untuk berpikir: “afala ta’qiluun, afala tatafakkaruun, la’allakum ta’qiluun, la’allakum tadzakkaruun,”

افلا تعقلون ,أفلا تذكرون, افلا تتفكرون, لعلكم تعقلون,لعلكم تذكرون

Seorang muslim harus senantiasa menggunakan daya pikirnya. Allah mewujudkan fenomena alam untuk dipikirkan, beraneka macamnya tingkah laku manusia sampai adanya aneka pemikiran dan pemahaman manusia hendaknya menjadi pemikiran seorang muslim. Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa tujuan berpikir tidak lain adalah untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ- bukan sebaliknya.

c. Disiplin (tepat) dan tetap (tsabat) dalam berislam. Sungguh kehidupan ini tidak terlepas dari ujian, rintangan dan tantangan serta hambatan. Ujian tersebut tidak akan berakhir sebelum nafasnya berakhir. Oleh sebab itulah untuk menghadapinya perlu tsabat dalam berpegang pada syariat Allah swt.

“dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Di surat Ali Imran: 102 Allah SWT menjelaskan,

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sebenar-benar taqwa. Dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Begitu pentingnya tsabat dijalan Allah, sampai Rasulullah –shallallâhu `alaihi wa sallam- mengajarkan do’a kepada ummatnya, sebagai berikut:

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك (رواه الترمذى)

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami untuk tetap berada pada agamaMu “

C. Amaliyah (Harokiyah)

Di antara sisi yang harus dibangun pada pribadi muslim adalah sisi amaliyahnya. Amaliyah harakiah yang merubah kehidupan seorang mukmin menjadi lebih baik. Hal ini penting sebab amaliyah adalah satu di antara tiga tuntutan iman dan Islam seseorang. Tiga tuntutan tersebut adalah: al-iqror bil- lisan (ikrar dengan lisan), at-tashdiq bil-qalb ( meyakini dengan hati), dan al-amal bil jawarih (beramal dengan seluruh anggota badan). Jadi tidak cukup seseorang menyatakan beriman tanpa mewujudkan apa yang diyakininya dalam bentuk amal yang nyata.

“Maka katakanlah “beramallah kamu niscaya Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. at-Taubah: 105)

Umat Islam dituntut oleh Allah –subhânahu wa ta`âlâ- untuk menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun yang kolektif bahkan kewajiban yang sistemik. Kewajiban individual akan lebih khusyu’ dan lebih baik pelaksanaannya jika ditunjang dengan sistem yang kondusif. Shalat, puasa , zakat dan haji misalnya akan lebih baik dan lebih khusyu’ kalau dilaksanakan di tengah suasana yang aman tenteram dan kondusif. Apalagi kewajiban yang bersifat sistemik seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad dsb, mutlak memerlukan ketersediaan perangkat sistem yang memungkinkan terlaksananya amal tersebut.

Pentingnya amaliyah harakiah dalam kehidupan seorang mukmin laksana air. Semakin banyak air bergerak dan mengalir semakin jernih dan semakin sehat air tersebut. Demikian juga seorang muslim semakin banyak amal baiknya, akan semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya, sebab amalan yang baik bisa menjadi penghapus dosa. Simaklah QS. Huud: 114

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam, sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan yang buruk (dosa), itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (QS. Huud: 114)

Ada sedikitnya tiga alasan kenapa seorang harus beramal:

1. Kewajiban diri pribadi.

Sebagai hamba Allah tentunya harus menyadari bahwa dirinya diciptakan bukan untuk hal yang sia-sia. Baik jin dan manusia Allah ciptakan untuk tujuan yang amat mulia yaitu untuk beribadah, menghamba kepada Allah –subhânahu wa ta`âlâ-. Amalan adalah bentuk refleksi dari rasa penghambaan diri kepada Dzat yang mencipta.

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah” (QS. Adz Dzaariyaat: 56)

Di samping itu pertanggungjawaban di depan mahkamah Allah nanti bersifat individu. Setiap individu akan merasakan balasan amalan diri pribadinya.

“Dan bahwasanya manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna” (QS. an-Najm: 39-41).

2. Kewajiban terhadap keluarga.

Keluarga adalah lapisan kedua dalam pembentukan ummat. Lapisan ini akan memiliki pengaruh yang kuat baik dan rusaknya sebuah ummat. Oleh sebab itulah seseorang dituntut untuk beramal karena terkait dengan kewajiban dia membentuk keluarga yang Islami, sebab tidak akan terbentuk masyarakat yang baik tanpa melalui pembentukan keluarga yang baik dan islami.

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim :6)

Setiap muslim seharusnya mampu membentuk keluarga yang berkhidmat untuk Islam, seluruh anggota keluarga terlibat dalam amal islami di seluruh bidang kehidupan.

3. Kewajiban terhadap dakwah.

Beramal haraki bagi seorang muslim bukan hanya atas tuntutan kewajiban diri dan keluarganya saja, akan tetapi juga karena tuntutan dakwah. Islam tidak hanya menuntut seseorang saleh secara individu tapi juga saleh secara sosial.

“dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah:71)

“dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ma’ruf adalah segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

Juga di dalam surat Fushshilat ayat 33:

“siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Allahu a’lam.
4:16 AM | 0 komentar | Read More

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah


Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.
Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah? (www.dakwatuna.com)
4:04 AM | 0 komentar | Read More

Indahnya Malam Pertama

Posted By Admin on Monday, December 28, 2009 | 8:14 PM


Satu hal sebagai bahan renungan Kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawi semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka....
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak Ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang - lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok Kita....
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu ....jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita...
Bagian kepala..,badan. .., Dan kaki diikatkan
Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah Kita
Keranda pelaminan... langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya.... . Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap - rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu....Dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan... ..
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi .....sudah pantaskah sikap kita selama ini...
Untuk disebut sebagai ahli syurga
8:14 PM | 2 komentar | Read More

Tarbiyah dan Pembentukkan Kader Dakwah

Posted By Admin on Monday, November 16, 2009 | 12:27 AM


Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum. (QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga dan seluruh harta bendaserta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Qur’an & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan dakwah yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling mencintai


Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: “rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan rijalul ‘amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul ‘amal tidak sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau “Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.


Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah
- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah penyimpangan juz’i (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)


Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. “Jalan dakwah tidak dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah.” Yang menjadi perhatian IM adalah Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq (memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang benar).

Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)
Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang (mutadarijah). Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, social, maupun dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif (jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.


Sifat-Sifat Kader Dakwah
Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mu’min. Ia mengibaratkan mu’min yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah & menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya. Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Qur’an. (QS 8 : 2)


b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul, dan Qiyadah.


c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)
Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : “sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong. Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2 yang tidak tahu apa2 berbicara urusan public” (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan jahiliyah.


d. Selalu Memilih Hidup Serius
Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabi’in, serta generasi penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, du’at yang telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.


e. Tha’atul jama’ah wal qiyadah (mentaati jama’ah dan pemimpin)
Khalifah Umar bin Khotob berkata “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).


Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:
a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Sur’atul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat ‘alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2 pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan dakwah.
- Ma’rifatu thobi’atu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan. Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan. Yang penting ia mati di jalan Allah.
Adamu tanazu’ (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan ta’adud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan ta’adud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan pemikiran (QS Al Anfal : 46)
12:27 AM | 0 komentar | Read More