
Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum. (QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa,raga dan seluruh harta bendaserta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).
Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Qur’an & Sunnah
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela kepentingan pribadi
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara,
4. Totalitas dalam dakwah,
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya
7. Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan dakwah yang panjang, berat & berliku.
8. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
9. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah
10. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling mencintai
Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: “rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan rijalul ‘amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul ‘amal tidak sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau “Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.
Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah
- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah penyimpangan juz’i (parsial) dan keliru.
- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)
At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)
Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukkan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. “Jalan dakwah tidak dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah.” Yang menjadi perhatian IM adalah Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq (memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang benar).
Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)
Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang (mutadarijah). Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, social, maupun dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif (jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.
Sifat-Sifat Kader Dakwah
Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mu’min. Ia mengibaratkan mu’min yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah & menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang berkwalitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya. Sifat2 tersebut antara lain:
a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Qur’an. (QS 8 : 2)
b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul, dan Qiyadah.
c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)
Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : “sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong. Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2 yang tidak tahu apa2 berbicara urusan public” (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan jahiliyah.
d. Selalu Memilih Hidup Serius
Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabi’in, serta generasi penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, du’at yang telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.
e. Tha’atul jama’ah wal qiyadah (mentaati jama’ah dan pemimpin)
Khalifah Umar bin Khotob berkata “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).
Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:
a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Sur’atul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat ‘alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan.
Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2 pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :
- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)
- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan dakwah.
- Ma’rifatu thobi’atu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan. Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan. Yang penting ia mati di jalan Allah.
Adamu tanazu’ (menghindari konflik internal)
- Konflik internal biasanya terjadi disebabkan ta’adud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan ta’adud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan pemikiran (QS Al Anfal : 46)
Monday, November 16, 2009
Tarbiyah dan Pembentukkan Kader Dakwah
Diposkan oleh
Admin
di
12:27 AM
0
komentar
Label: Tarbawiyah
Sunday, August 23, 2009
Riayah Tarbawiyah
Pemilu telah selesai. “Alhamdulillah, lega rasanya.” Barangkali ada segelintir kader yang berucap demikian. Stop !! Jangan mengangguk-anggukkan kepala dahulu. Meski pemilu telah usai, jalan dakwah yang panjang dan membentang masih menanti langkah dan gerak tangan kaki kita.
Partai yang kita “usung” tinggi demi mencapai daulah islamiyah hanya merupakan sepotong lingkaran kecil dalam kehidupan. Ibarat sebuah lingkaran besar yang didalamnya banyak terdapat lingkaran kecil. Nah, partai adalah salah satu lingkaran kecil yang menjadi wasilah dan wajihah dakwah kita. Dan masih banyak lingkaran kecil lainnya yang menopang satu tujuan dakwah kita. Jadi, pemilu kemarin adalah satu bagian kecil saja yang HARUS kita perjuangkan “kebersihan” dan keadilanya. Masih banyak tugas dakwah lain yang menanti kita.
Rasa “Kejenuhan Kader”
Kadangkala rasa “kejenuhan dan kebosanan” muncul didiri para kader. Kadangkala kita terlanjur terlena dalam ‘zona kenyamanan” Apatah jua, mausiawi adanya. Rasa lelah, capek, dan jenuh kadang menghampiri. Ya, rasa-rasa itu muncul didiri. Solusinya adalah saat rasa itu muncul, kembalikan hati kepada tujuan penciptaan awal kita. Beribadah. Telah jelas Alloh sampaikan dalam Qur’an surat Adz Dzariyat ayat 61 :
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.”
Ya beribadah, berdakwah, dan bertarbiyah. Bertarbiyah dalam arti terus mendidik diri dan membina diri dalam rangka mencapai ibadah yang sempurna.
Sekaranglah saat yang tepat untuk mulai merecovery tarbiyah kita. Recovery tarbiyah atau bias pula disebut riayah tarbawiyah. Riayah Tarbawiyah perlu dilakukan untuk mengadakan pemeliharaan dan penghidupan suasana tarbawi yang sehat dalam pertemuan-pertemuan tarbawi. Dalam hal ini untuk mengantisipasi rasa kejenuhan yang kadang-kadang muncul dari para kader dakwah. Perlu SEGERA kembali memperhatikan aspek kaderisasi secara lebih cermat dan terarah sesuai dengan manhaj tarbiyah. “Nahnu Du’at qobla kulli syaii.” Ya..kita adalah da’i sebelum lain segala sesuatu. Jadi SDM alias kader dakwah perlu terus diremajakan.
Urgensi Riayah Tarbawiyah
Meski pemilu telah usai, tetap kembalikan dan gelorakan semangat dakwah. Totalitas dakwah. Saat totalitas dakwah terus kita pegang erat dalam genggaman tangan dan hati, rasa ketenangan akan muncul didiri. Seperti dalam riayah tarbawiyah, tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan ketenangan ruhani dan kekuatan. Begitupun akan muncul Qiyadatul Ummah yang didambakan.
Saat energi para kader tarbiyah mulai luntur, mulai hilang, perlu segera dihembuskan nafas-nafas semangat baru “ruhul jadid.” Karena bagaimanapun juga tugas kader dakwah adalah untuk berdakwah sampai titik darah penghabisan. “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi….” (Q.S. Al Anfal : 60)
Langkah-langkah Riayah Tarbawiyah
Ruhiyah para kader perlu dikokohkan lagi. Langkah utamanya adalah dengan menguatkan kedekatannya pada Alloh SWT. Karena dengan langkah utama ini, dampak utamanya adalah tingkat produktifitas dakwah dan tarbiyah akan melejit lagi. Pengokohan ini senada dengan ungkapan “seperti rahib di malam hari dan bagaikan penunggang kuda yang gagah di siang hari.” Ia dapat menarik hati manusia untuk ikut dalam rombongan kemaslahatan.
Langkah merecovery tarbawiyah para kader lainnya adalah dengan menciptakan iklim tarbiyah dalam lingkungan. Mungkin bias diawali dengan menciptakan bi’ah hasanah, bi’ah islamiyah, bi’ah harokiyah. Bi’ah harokiyah yang notabene bi’ah tarbawiyah perlu diciptakan. Begitulah iklim tarbiyah dan bi’ah tarbiyah yang padu padan.
Implementasi Riayah Tarbawiyah di Ramadhan 1430 H.
Iklim tabiyah menjadi dambaan banyak orang, sebab ini akan dapat meningkatkan kualitas keimanan. Orang akan dapat hidup kembali gairah ibadahnya. Bersinar kembali hatinya yang tengah redup. Lebih-lebih lagi, momentum ramadhan kali ini, dimana pahala “diobral” bagi para insane sejati yang mengisi ramadhannya dengan semangat tinggi. Ada beberapa langkah untuk mengimplementasikan riayah tarbawiyah di bulan ramadhan ini, diantaranya :
Tarqiyah kader
Rekrutmen
Training Pra ramadhan
Tadarus
Kajian kitab
Musabaqoh antar liqo’
Ifthor-ifthor dan tarling
Langkah-langkah tersebut akan dapat memaknai dan menyemaisuburkan riayah tarbawiyah. Pun demikian, masih ada cara praktis yang mungkin jadi wacana “kontroversial” para kader, tetapi langkah ini sangat bermakna, yakni dengan pemberian “reward”, hadiah bagi para kader untuk memacu amaliyah mereka. Mungkin reward untuk kader terbanyak khatamnya, kader ternanyak mengisi pengajian, kader terbanyak memberi ifthor dan sebagainya. Sedikit kontrovesial memang, di satu sisi ibadah kok ad aiming-imingnya (seperti anak kecil saja), di sisi lain ibadah perlu diawali motivasi atau penyemangatnya. Wallohu A’lam bish Showab.
Intisari yang dapat penulis sampaikan adalah meskipun urusan dakwah dan tarbiyah adalah “wajib”, dalam hubungannya dengan amal jama’i, HARGAI KINERJA KADER DAKWAH SEKECIL APAPUN BENTUKNYA, karena Alloh SWT pun demikian adanya.
“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zaroh, niscaya dia akan melihat balasannya,” (Q.S. Al Zalzalah : 7)
Read More...
Diposkan oleh
Admin
di
8:35 AM
0
komentar
Label: Tarbawiyah
Monday, May 25, 2009
Kenapa Harus Tarbiyah...??

Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di bumi khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kajian keislaman yang diadakan hamper di seluruh tempat terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang ‘makan bangku’ pendidikan.
Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya ‘westlife’ ini kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. Apalagi invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam lewat berbagai cara telah berhasil dan sangat mewarnai kehidupan bangsa kita yang mayoritas adalah muslim. Karenanya sebagai khairu ummah kita harus melawannya dengan cara yang sama. Seluruh potensi yang kita miliki harus dioptimalkan. Dan pondasi awal untuk bisa mengoptimalkan potensi Al-Insaan yang ada dalam diri kita adalah Tarbiyah.
Pentingnya Tarbiyah
Tarbiyah sangat penting sebagai imunitas dalam menghadapi serangan musuh, selain sebagai sarana penguat aqidah. Karena Tarbiyah adalah sebuah sarana untuk membentuk pribadi dambaan ummat hingga mampu membentuk komunitas Islami menuju terwujudnya kembali sebuah peradaban ideal.
Tarbiyah yang merupakan sebuah kemestian, keharusan bagi pada da’I Islam memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya ‘begitu indah’. Rabbaniyah, sebagaimana karakter Islam itu sendiri, Tarbiyah pun bersumber dan bertujuan hanya kepada Allah. Lalu tadaruj atau bertahap. Dakwah adalah sebuah proses dan tahapan, sehingga Tarbiyah pun dilakukan dan berjalan secara bertahap, step by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan meski juga tidak ringan. Selain itu dalam Tarbiyah juga berlaku tawazun alias seimbang . Artinya menempatkan segala sesuatu pada haknya. Dan juga syaamil atau universal, menyentuh seluruh lini dan sisi kehidupan. Karena Tarbiyah sebagai pondasi dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamiin –‘memanusiakan’ manusia. Terakhir dalam tarbiyah tidak mengenal kata cukup atau berhenti, ia berkesinambungan (istimror) sepanjang hidup. Atau yang disebut life education alias Tarbiyah madal hayah
Proses Tarbiyah
Tarbiyah dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga pendekatan; idealis, taktis, dan operacional.
Pendekatan idealis adalah jalan bagi pada da’i Islam, tidak ada jalan lain karena jalannya adalah jalan tarbawi yang memiliki tiga karakter mendasar.
Pertama, sulit tapi hasilnya berkualitas.Proses tarbiyah ibarat menanam pohon jati, senantiasa harus dijaga dan diperlihara sehingga akarnya tetap kuat dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencangn. Karenanya jalan Tarbawi merupakan proses pembentukan pribadi dambaan. Kedua, proses yang panjang tapi terjaga kemurniannya. Dakwah adalah jalan panjang yang tidak hanya dilalui oleh satu generasi. Akan tetapi, meski terkadang untuk mencapai target dan sasaran tertentu harus melalui sekian banyak generasi, Asholah-nya tetap terjaga dan hammasah tetap terpelihara. Tarbiyah membentuk pribadi telah yang teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah serta pribadi yang tak kekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Ketiga, lambat tapi hasilnya terjamin. Dakwah ibarat kompetisi dan bukan perlombaan, untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dengan ’staying power untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas terjamin. Kompetisi memang terlihat lama dan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kesuksesan di akhir kompetisi. Watak perjalanan dakwah yang lamabat harus dilihat dari proses dan tahapannya, bukan dari perangai para pelakunya (okum da’i), karena perangai yang lambar adalah sebuah kelalaian. Dan salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah lahirnya kepribadian yang integral, tidak mendua, dan tidak terbelah, yang akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.
Setelah ketiga faktor idealis di atas terelisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetaka langkah-langkah taktis, untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader serta menyelaraskan dukungan massa dengan potensi Tarbiyah.
Terakhir adalah langkah strategis, dan dalam hal ini yang paling penting dalam sebuah perjalanan dakwah adalah fokus untuk menyusun barisan kader serta untuk menghindari terjadinya ”lost generation”, perlu dirumuskan strategi untuk membina kader-kader baru.
Penutup
Saat terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa di masa Abu Bakar RA., di sepertiga jazirah Arab yang selamat kader dakwah di wilayah itu dijaga dan dipelihara. Lalu pembinaan terhadap kader-kader batu yangkebanyakan adalah tawanan perang Riddah terus dijalankan hingga masa Umar bin Khattab RA. Pada saat perang Qadisiyah, kader-kader baru yang dibina mayoritas berada di garis terdepan bahkan tak jarang di antaranya kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan Islam. Dan itulah hasil Tarbiyah (QS. Ali Imran:146)
Sumber : majalah Al-Izzah Sptember 2002
Diposkan oleh
Admin
di
10:41 PM
1 komentar
Label: Tarbawiyah
Tuesday, February 24, 2009
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten alam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara husus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya” . Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya asulullah, apakah aku udah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti epada orang tua ?” abi SAW sambil memeluk anak muda itu dan engatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul denganorang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi leh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaanNya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil akhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
Diposkan oleh
Admin
di
6:24 PM
2
komentar
Label: Tarbawiyah
Thursday, February 19, 2009
Kemana Waktuku...??
Pagi ini (Jum'at, 18 Februari 09) kuliat ada satu pesen SMS di inbox dari 085658229xxx, satu kalimat tertulis disana yang bisa membuat bibir ini sedikit tersenyum, walau gak semanis gula, tapi insya Alloh sudah semanis kecap....(manisan mana ya kecap ama gula...?).
Betapa ketika ane baca kalimat itu, ku jadi tersentak manakala kuingat perjalanan hidup ini ternyata udah sedemikian jauhnya, seper empat abad lebih....., bahkan kini ku telah hampir punya 2 jundi yang insya Alloh Sholeh dan Sholehah.
"Waktu adalah bagaikan air, ia mengalir tanpa henti meski sebongkah batu menghalanginya, ia lembut tapi tajam bagaikan pedang, apbila kita lengah kita kan terluka, bahkan menimbulkan penyesalan, tapi apabila kita cerdas bersahabat dengan sang waktu, maka kita kan jadi pemenang" (bunyi kalimat dalam SMS itu)
Betapa selama ini ku terlena dan kurang menghargai waktu, padahal sering ane memberikan kajian, ngisi pengajian dengan materi 'Bagaimana mengelola waktu', tp ternyata ane sendiri kurang bisa menghargai waktu....( Ya Alloh...maafkan hambaMu ini....!! takut ku dengan ancaman Alloh dalam Q.S Ash Shof ayat 2-3....).
Astaghfirullohal adzim..., Kata Rosul, umur umatnya hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Itu artinya manakala hitungan umur kita hanya 60 tahun, berarti sebagian besar bahkan hampir 50 % kehidupan kita hanya untuk tidur saja. Asumsinya adalah bila kita sehari semalam tidur 8 jam (idealnya sih), tp masih juga tidur siang misalnya sampai 4 jam, berarti tidur kita selama 12 jam sehari semalam...., subhanalloh berarti pula dalam usia kita yang hanya 60 tahun itu, yang 30 tahun hanya kita gunakan untuk tidur saja. (betul-betul kita nih punya penyakit TuMor alias 'Tukang Molor'. Na'udzubillah.....
Kita biasa merasa ketika Alloh memberikan 24 jam sehari semalam, terasa masih saja kurang....berapa jam lagi yang akan kita minta kepadaNya, padahal selama 30 tahun dari 60 idup kita hanya kita gunakan untuk tidur. belum lagi Belajarnya, belum nonton TV nya, belum sepak bolanya, belum bekerjanya, belum ini belum itu dst....Trus KAPAN IBADAHNYA...?
Sekali lagi pertanyaanya adalah ....KAPAN IBADAHNYA bro......!!!!???????
Diposkan oleh
Admin
di
7:46 PM
0
komentar
Label: Muhasabah
Tuesday, February 17, 2009
Lembaran Baruku....

Subhanalloh...wal hamdulillah, pagi ini begitu indah seindah hati orang-orang yang selalu menyerahkan diriya kepada Alloh swt. Tak biasanya, pagi ini kucoba kembali membuka blog ini, yang memang udah sangat lama gak pernah posting. yang jelas semenjak akhir dari lomba blog UNIKA.
Pagi ini ane sempatkan lagi tuk bersua dengan semuanya. Kucoba ikuti jariku yang kepenen menari diatas keyboard sambil mendengarkan program dialog nya Radio RAS Jakarta yang streamingnya juga ane pasang dalam blog ini. Udah jadi kebiasaan pagiku kini dengerin radio-radio jakarta dalam program paginya. Biasa...perbandingan bro...sambil menunggu interior RDSFM selesai.
Sahabatku..., satu tahun lebih ane udah gak lagi cuap-cuap di depan mic dalam sebuah studio radio, setelah setahun lalu ane out from my radio alias MQFM Solo (per 5 Februari 08, setelahnya selama kurang lebih 9 bulan ane nongkrong ama temen2 di RUMAH ZAKAT INDONESIA cab. Solo (ngurusin cinta pada sesama yakni ngubungin ato mediatori antara muzzaki ama mustahik....).
Baru setelahnya per Januari 2009 ane ada amanah baru untuk ngurusin sebuah radio dakwah di Solo, yakni RDSFM (Radio Dakwah Syari'ah). Harapannya sih kerinduan untuk mengudara setelah mendarat sekian waktu bisa terobati kembali, juga dakwah bil lisan bisa berjalan dengan lebih efektif lagi. Doa dan partisipasi antum semua ane harapkan. Hari ini (saat nulis ini rabu, 17 Feb 09) RDS masih menyelesaikan interior ruang studio ama ruang produksi yang udah hampir 80 % jadi. Alhamdulillah.....
Tafadzol untuk semuanya singgah di saung nya RDSFM tepatnya di Jl. Adi Soemarmo no 181 Banyuanyar Solo. Udah dulu ya ...mo nyruput Kopi dulu bikinan mas Marwan (K3 nya RDS FM Solo.....)
Diposkan oleh
Admin
di
5:35 PM
0
komentar
Label: Kopi Pagi Santai
Friday, August 31, 2007
Jazakalloh VISITOR
Yang jelas kalo masalah isi, afwan banget barangkali emang isinya gak bagus amat, atau bahkan asal-asalan aja. Namun jauh dari lubuk hati ingin ane punya manfaat bagi sesama walau hanya sebatas curhat atau berbagi cerita. ada hadist yang bunyinyakalo gak salah "Khoirun Nash Anfa'uhum Lin Nash" (artinya : Manusia yang baik itu adalah yang bermanfaat bagi manusia lainya).
Itu sebenarnya yang pengen ane raih, gak ada maksud apa-apa, tapi bisa jadi baik menurut ane belum tentu baik menurut yang lain, begitu juga sebaliknya, ya...maafin Arif kalo gitu.
Banyak harap dari blog yang usianya masih sangat seumur jagung (bahkan lebih lama umur jagung) ini, bisa punya manfaat bagi sesama. kalo kaitanya dengan kembalinya modal, malah justru ane nanyain modal yang mana akh...?? tapi barangkali modal kirim sms kali ya..., masalah sms, iye ane sms ke 7004 beberpa, karena semenjak adanya lomba blog ini ane udah ngisi pulsa 2 kali, yang pertama 10.000 rupiah trus yang kedua dikirim pulsa dari seseorang 20.000 rupiah, dan sampe batas waktu yang ditentukan pulsa ane masih 6.500 rupiah. Pulsa segitu ane gunakan untuk kegiatan kantor ama ya itu tadi ngirim sms ke 7004. kenapa sms bisa banyak, barangkali aja ajakan di fleximilis tahajud call berhasil. Karena ane emang punya komunitas di FlexiMilis Tahajud Call MQFM Solo. Sekalian disini ane ucapin makasih Sukron Jazakmulloh untuk komunitas FlexiMilis Tahajud Call MQFM Solo, Smoga persaudaraan kita tetap terjalin dan terus kita hidupkan malam-malam indah kita dengan bersujud panjang lewat tahajud kita..., Sukses Sahabatku semua semoga Maqomam Mahmuda yang dijanjikan Alloh dapat kita raih bersama.
Untuk saudaraku VISITOR kami terbuka banget kalo saudaraku ingin gabung dalam komunitas FlexiMilis ini, tapi emang syaratnya harus punya no Flexi. Maksih banget doanya, dan tetap semangat. Kalo saudaraku VISITOR penging liat temen2 komunitas Tahajud Call bisa buka di (www.tcmqfmsolo.blogspot.com)
Akhirnya mohon maaf untuk saudaraku bila emang isi blog ini gak berkenan, ini sekedar kita berbagi bersama, bersama memberi arti. Sekali lagi tiada hari tanpa memberi manfaat bagi sesama. Saling mendoakan ya....
Diposkan oleh
Admin
di
10:43 PM
7
komentar
Label: Nahnu Nujib


