
Tarbiyah saat ini telah menjadi sebuah fenomena tersendiri di bumi khatulistiwa ini. Terbukti dengan maraknya kajian keislaman yang diadakan hamper di seluruh tempat terutama di lingkungan yang isinya orang-orang yang ‘makan bangku’ pendidikan.
Di tengah kehidupan yang serba hedonisme dan cenderung bergaya ‘westlife’ ini kehadiran Tarbiyah bagaikan setetes embun di tengah kering dan gersangnya hidup. Apalagi invasi pemikiran yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam lewat berbagai cara telah berhasil dan sangat mewarnai kehidupan bangsa kita yang mayoritas adalah muslim. Karenanya sebagai khairu ummah kita harus melawannya dengan cara yang sama. Seluruh potensi yang kita miliki harus dioptimalkan. Dan pondasi awal untuk bisa mengoptimalkan potensi Al-Insaan yang ada dalam diri kita adalah Tarbiyah.
Pentingnya Tarbiyah
Tarbiyah sangat penting sebagai imunitas dalam menghadapi serangan musuh, selain sebagai sarana penguat aqidah. Karena Tarbiyah adalah sebuah sarana untuk membentuk pribadi dambaan ummat hingga mampu membentuk komunitas Islami menuju terwujudnya kembali sebuah peradaban ideal.
Tarbiyah yang merupakan sebuah kemestian, keharusan bagi pada da’I Islam memiliki karakteristik tersendiri yang menjadikannya ‘begitu indah’. Rabbaniyah, sebagaimana karakter Islam itu sendiri, Tarbiyah pun bersumber dan bertujuan hanya kepada Allah. Lalu tadaruj atau bertahap. Dakwah adalah sebuah proses dan tahapan, sehingga Tarbiyah pun dilakukan dan berjalan secara bertahap, step by step, sehingga tidak memberatkan dan memaksakan meski juga tidak ringan. Selain itu dalam Tarbiyah juga berlaku tawazun alias seimbang . Artinya menempatkan segala sesuatu pada haknya. Dan juga syaamil atau universal, menyentuh seluruh lini dan sisi kehidupan. Karena Tarbiyah sebagai pondasi dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamiin –‘memanusiakan’ manusia. Terakhir dalam tarbiyah tidak mengenal kata cukup atau berhenti, ia berkesinambungan (istimror) sepanjang hidup. Atau yang disebut life education alias Tarbiyah madal hayah
Proses Tarbiyah
Tarbiyah dalam prosesnya dapat dilakukan minimal dengan tiga pendekatan; idealis, taktis, dan operacional.
Pendekatan idealis adalah jalan bagi pada da’i Islam, tidak ada jalan lain karena jalannya adalah jalan tarbawi yang memiliki tiga karakter mendasar.
Pertama, sulit tapi hasilnya berkualitas.Proses tarbiyah ibarat menanam pohon jati, senantiasa harus dijaga dan diperlihara sehingga akarnya tetap kuat dan tidak goyah diterpa badai dan angin kencangn. Karenanya jalan Tarbawi merupakan proses pembentukan pribadi dambaan. Kedua, proses yang panjang tapi terjaga kemurniannya. Dakwah adalah jalan panjang yang tidak hanya dilalui oleh satu generasi. Akan tetapi, meski terkadang untuk mencapai target dan sasaran tertentu harus melalui sekian banyak generasi, Asholah-nya tetap terjaga dan hammasah tetap terpelihara. Tarbiyah membentuk pribadi telah yang teruji dengan panjangnya mata rantai perjalanan dakwah serta pribadi yang tak kekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Ketiga, lambat tapi hasilnya terjamin. Dakwah ibarat kompetisi dan bukan perlombaan, untuk itu diperlukan kesabaran dan keuletan dengan ’staying power untuk mencapai target dan sasaran dengan kualitas terjamin. Kompetisi memang terlihat lama dan lambat, akan tetapi potensi dan tenaga terdistribusi secara kolektif dan perpaduan kerjasama terarah secara baik untuk memberikan sebuah jaminan kesuksesan di akhir kompetisi. Watak perjalanan dakwah yang lamabat harus dilihat dari proses dan tahapannya, bukan dari perangai para pelakunya (okum da’i), karena perangai yang lambar adalah sebuah kelalaian. Dan salah satu jaminan dari proses tarbiyah adalah lahirnya kepribadian yang integral, tidak mendua, dan tidak terbelah, yang akan tampak sejauh mana keterjaminannya bila dihadapkan oleh situasi dan kondisi yang menguji integritas kepribadiannya.
Setelah ketiga faktor idealis di atas terelisasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah memetaka langkah-langkah taktis, untuk menyeimbangkan luasnya medan dakwah dengan jumlah kader serta menyelaraskan dukungan massa dengan potensi Tarbiyah.
Terakhir adalah langkah strategis, dan dalam hal ini yang paling penting dalam sebuah perjalanan dakwah adalah fokus untuk menyusun barisan kader serta untuk menghindari terjadinya ”lost generation”, perlu dirumuskan strategi untuk membina kader-kader baru.
Penutup
Saat terjadi gelombang pemurtadan yang luar biasa di masa Abu Bakar RA., di sepertiga jazirah Arab yang selamat kader dakwah di wilayah itu dijaga dan dipelihara. Lalu pembinaan terhadap kader-kader batu yangkebanyakan adalah tawanan perang Riddah terus dijalankan hingga masa Umar bin Khattab RA. Pada saat perang Qadisiyah, kader-kader baru yang dibina mayoritas berada di garis terdepan bahkan tak jarang di antaranya kemudian terkenal sebagai panglima dan komandan pasukan Islam. Dan itulah hasil Tarbiyah (QS. Ali Imran:146)
Sumber : majalah Al-Izzah Sptember 2002
Monday, May 25, 2009
Kenapa Harus Tarbiyah...??
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
10:41 PM
1 komentar
Label: Tarbawiyah
Tuesday, February 24, 2009
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten alam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara husus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :“Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya” . Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya asulullah, apakah aku udah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti epada orang tua ?” abi SAW sambil memeluk anak muda itu dan engatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita. Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul denganorang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi leh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaanNya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil akhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
6:24 PM
2
komentar
Label: Tarbawiyah
Thursday, February 19, 2009
Kemana Waktuku...??
Pagi ini (Jum'at, 18 Februari 09) kuliat ada satu pesen SMS di inbox dari 085658229xxx, satu kalimat tertulis disana yang bisa membuat bibir ini sedikit tersenyum, walau gak semanis gula, tapi insya Alloh sudah semanis kecap....(manisan mana ya kecap ama gula...?).
Betapa ketika ane baca kalimat itu, ku jadi tersentak manakala kuingat perjalanan hidup ini ternyata udah sedemikian jauhnya, seper empat abad lebih....., bahkan kini ku telah hampir punya 2 jundi yang insya Alloh Sholeh dan Sholehah.
"Waktu adalah bagaikan air, ia mengalir tanpa henti meski sebongkah batu menghalanginya, ia lembut tapi tajam bagaikan pedang, apbila kita lengah kita kan terluka, bahkan menimbulkan penyesalan, tapi apabila kita cerdas bersahabat dengan sang waktu, maka kita kan jadi pemenang" (bunyi kalimat dalam SMS itu)
Betapa selama ini ku terlena dan kurang menghargai waktu, padahal sering ane memberikan kajian, ngisi pengajian dengan materi 'Bagaimana mengelola waktu', tp ternyata ane sendiri kurang bisa menghargai waktu....( Ya Alloh...maafkan hambaMu ini....!! takut ku dengan ancaman Alloh dalam Q.S Ash Shof ayat 2-3....).
Astaghfirullohal adzim..., Kata Rosul, umur umatnya hanya berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Itu artinya manakala hitungan umur kita hanya 60 tahun, berarti sebagian besar bahkan hampir 50 % kehidupan kita hanya untuk tidur saja. Asumsinya adalah bila kita sehari semalam tidur 8 jam (idealnya sih), tp masih juga tidur siang misalnya sampai 4 jam, berarti tidur kita selama 12 jam sehari semalam...., subhanalloh berarti pula dalam usia kita yang hanya 60 tahun itu, yang 30 tahun hanya kita gunakan untuk tidur saja. (betul-betul kita nih punya penyakit TuMor alias 'Tukang Molor'. Na'udzubillah.....
Kita biasa merasa ketika Alloh memberikan 24 jam sehari semalam, terasa masih saja kurang....berapa jam lagi yang akan kita minta kepadaNya, padahal selama 30 tahun dari 60 idup kita hanya kita gunakan untuk tidur. belum lagi Belajarnya, belum nonton TV nya, belum sepak bolanya, belum bekerjanya, belum ini belum itu dst....Trus KAPAN IBADAHNYA...?
Sekali lagi pertanyaanya adalah ....KAPAN IBADAHNYA bro......!!!!???????
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
7:46 PM
0
komentar
Label: Muhasabah
Tuesday, February 17, 2009
Lembaran Baruku....

Subhanalloh...wal hamdulillah, pagi ini begitu indah seindah hati orang-orang yang selalu menyerahkan diriya kepada Alloh swt. Tak biasanya, pagi ini kucoba kembali membuka blog ini, yang memang udah sangat lama gak pernah posting. yang jelas semenjak akhir dari lomba blog UNIKA.
Pagi ini ane sempatkan lagi tuk bersua dengan semuanya. Kucoba ikuti jariku yang kepenen menari diatas keyboard sambil mendengarkan program dialog nya Radio RAS Jakarta yang streamingnya juga ane pasang dalam blog ini. Udah jadi kebiasaan pagiku kini dengerin radio-radio jakarta dalam program paginya. Biasa...perbandingan bro...sambil menunggu interior RDSFM selesai.
Sahabatku..., satu tahun lebih ane udah gak lagi cuap-cuap di depan mic dalam sebuah studio radio, setelah setahun lalu ane out from my radio alias MQFM Solo (per 5 Februari 08, setelahnya selama kurang lebih 9 bulan ane nongkrong ama temen2 di RUMAH ZAKAT INDONESIA cab. Solo (ngurusin cinta pada sesama yakni ngubungin ato mediatori antara muzzaki ama mustahik....).
Baru setelahnya per Januari 2009 ane ada amanah baru untuk ngurusin sebuah radio dakwah di Solo, yakni RDSFM (Radio Dakwah Syari'ah). Harapannya sih kerinduan untuk mengudara setelah mendarat sekian waktu bisa terobati kembali, juga dakwah bil lisan bisa berjalan dengan lebih efektif lagi. Doa dan partisipasi antum semua ane harapkan. Hari ini (saat nulis ini rabu, 17 Feb 09) RDS masih menyelesaikan interior ruang studio ama ruang produksi yang udah hampir 80 % jadi. Alhamdulillah.....
Tafadzol untuk semuanya singgah di saung nya RDSFM tepatnya di Jl. Adi Soemarmo no 181 Banyuanyar Solo. Udah dulu ya ...mo nyruput Kopi dulu bikinan mas Marwan (K3 nya RDS FM Solo.....)
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
5:35 PM
0
komentar
Label: Kopi Pagi Santai
Friday, August 31, 2007
Jazakalloh VISITOR
Yang jelas kalo masalah isi, afwan banget barangkali emang isinya gak bagus amat, atau bahkan asal-asalan aja. Namun jauh dari lubuk hati ingin ane punya manfaat bagi sesama walau hanya sebatas curhat atau berbagi cerita. ada hadist yang bunyinyakalo gak salah "Khoirun Nash Anfa'uhum Lin Nash" (artinya : Manusia yang baik itu adalah yang bermanfaat bagi manusia lainya).
Itu sebenarnya yang pengen ane raih, gak ada maksud apa-apa, tapi bisa jadi baik menurut ane belum tentu baik menurut yang lain, begitu juga sebaliknya, ya...maafin Arif kalo gitu.
Banyak harap dari blog yang usianya masih sangat seumur jagung (bahkan lebih lama umur jagung) ini, bisa punya manfaat bagi sesama. kalo kaitanya dengan kembalinya modal, malah justru ane nanyain modal yang mana akh...?? tapi barangkali modal kirim sms kali ya..., masalah sms, iye ane sms ke 7004 beberpa, karena semenjak adanya lomba blog ini ane udah ngisi pulsa 2 kali, yang pertama 10.000 rupiah trus yang kedua dikirim pulsa dari seseorang 20.000 rupiah, dan sampe batas waktu yang ditentukan pulsa ane masih 6.500 rupiah. Pulsa segitu ane gunakan untuk kegiatan kantor ama ya itu tadi ngirim sms ke 7004. kenapa sms bisa banyak, barangkali aja ajakan di fleximilis tahajud call berhasil. Karena ane emang punya komunitas di FlexiMilis Tahajud Call MQFM Solo. Sekalian disini ane ucapin makasih Sukron Jazakmulloh untuk komunitas FlexiMilis Tahajud Call MQFM Solo, Smoga persaudaraan kita tetap terjalin dan terus kita hidupkan malam-malam indah kita dengan bersujud panjang lewat tahajud kita..., Sukses Sahabatku semua semoga Maqomam Mahmuda yang dijanjikan Alloh dapat kita raih bersama.
Untuk saudaraku VISITOR kami terbuka banget kalo saudaraku ingin gabung dalam komunitas FlexiMilis ini, tapi emang syaratnya harus punya no Flexi. Maksih banget doanya, dan tetap semangat. Kalo saudaraku VISITOR penging liat temen2 komunitas Tahajud Call bisa buka di (www.tcmqfmsolo.blogspot.com)
Akhirnya mohon maaf untuk saudaraku bila emang isi blog ini gak berkenan, ini sekedar kita berbagi bersama, bersama memberi arti. Sekali lagi tiada hari tanpa memberi manfaat bagi sesama. Saling mendoakan ya....
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
10:43 PM
7
komentar
Label: Nahnu Nujib
Thursday, August 30, 2007
Pilih Mana Hayoo...??
Secara biaya, Telkomnet Instan lebih mahal. Coba hitung sendiri. Misalnya kita hanya browsing di internet, bukan men-download. Memakai Speedy kita sebulan cukup membayar 200 rb ditambah kalo kelebihan. Tapi pakenya sepuasnya (berjam-jam). Bandingkan dengan Instan yang browsing 'doank' sejam bisa nyampe 9.900 rupiah. Kalikan dengan 30 hari. Berapa hasilnya?
Bener gak ya Pak TELKOM....???
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
11:43 PM
0
komentar
Label: Gagap Tekhnologi
Dari GaPlek ampe GapTek...
Untuk membuat koneksi pertama kali mulailah dari "Start - Programs - Accessories - Communication - Dial-Up Networking ". Di sana klik pada "Make New Connection". Pilih modem yang digunakan dan sebuah nama untuk hubungan tersebut (misalnya TELKOMNet). Dalam menu berikutnya Anda harus memasukkan nomor telepon login. Dimana pun Anda berada dan apa pun jenis modem yang digunakan, nomornya adalah 0809 8 9999. Untuk login gunakan " telkomnet@instan " dengan password " telkom" tanpa tanda kutip. Setelah selesai pengisian, maka Anda dapat langsung terhubung ke Internet.
Diposkan oleh
SYAIFUL ARIF
di
11:19 PM
0
komentar
Label: Gagap Tekhnologi



